Tentang Santri

Tentang Santri

Kata “santri” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setidaknya mengandung dua makna. Pertama, adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata “pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri." Kendati begitu, ada cukup banyak pendapat yang memaparkan kemungkinan sejarah atau asal usul kata “santri”.

Santri itu identik dengan "nyantri, ngopi, ngaji dan ngabdi di Pondok". Empat hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan kehidupan kaum santri putra di pesantren. Beberapa pengertian maksud perihal tersebut diantaranya: Pertama, nyantri. Nyantri adalah suatu proses dimana seseorang dibiasakan untuk hidup serba sederhana, mandiri, disiplin, dan memiliki sifat tawadlu kepada seorang kiai atau pengasuh dan guru. Pada proses ini santri digembleng untuk disiplin setiap hari, setiap malam.

Kedua, ngopi. Ngopi adalah suatu aktivitas atau kebiasan yang mungkin sangat mengasyikan menurut sebagian santri. Kebanyakan dari pengopi, utamanya santri, menganggap aktivitas ini dapat menjadi sarana membuka inspirasi dan imajinasi saat muthola’ah pelajaran-pelajaran tertentu dengan rekan-rekan santri lainnya. Lebih dari itu, Ngopi juga merupakan momentum dimana santri mencoba belajar meresapi manis-pahitnya kehidupan nantinya, sekaligus dituntut untuk terus melangkah menuju kebaikan yang akan mengantar kita kepada lautan rasa manisnya kehidupan.

Ketiga, ngaji. Ngaji adalah kewajiban rutinitas yang harus dilaksanakan setiap santri. Hampir sama seperti belajar di sekolah, tetapi terdapat begitu banyak perbedaan. Di pesantren, ngaji tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu umum, tapi lebih banyak mempelajari cabang-cabang ilmu agama Islam, seperti mengkaji Al-Qur’an, belajar ilmu nahwu-shorof (metode membaca) sampai ilmu hadist dan ilmu tafsir dengan merujuk kitab-kitab klasik atau biasa disebut kitab kuning.

Keempat, ngabdi. Ngabdi atau khodam adalah suatu hal yang lazim dilakukan seorang santri dengan tujuan ngalap barokah kepada kiyai. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadrotussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari ketika Beliau mondok di tempat Mbah Cholil Bangkalan, Dimana Beliau (Mbah Hasyim Asy’ari) dikenal sebagai santri yang sangat patuh kepada Mbah Cholil Bangkalan.

Dalam suatu kisah, pada suatu hari di saat hujan lebat, Mbah Cholil mendapat seorang tamu, tamu itu di depan pondok dan sedang kehujanan. Ketika itu pula Mbah Cholil menawarkan kepada santrinya "siapa yang biasa menjemput tamu saya di luar?", Seketika itu Mbah Hasyim mengajukan diri untuk menjemput tamu itu, dengan sesegera mungkin Mbah Hasyim menghampiri tamu itu dan menggengdonya untuk menemui Mbah Cholil. Setelah sekian lama tamu itu di dalam  rumah/ndalemnya Mbah Cholil, Mbah Cholil kembali bertanya kepada santrinya, "siapa yang mau mengantarkan tamu saya pulang?". Lagi-lagi Mbah Hasyim menyanggupi permintaan Gurunya itu. Tamu itu di gendong lagi sampai ke gerbang pondok. Disaat Mbah Hasyim mengantarkan tamu itu, Mbah Cholil berbicara kepada sebagian santrinya "ilmuku sudah dibawa orang itu", yang di maksud di sini adalah Mbah Hasyim. Lalu Mbah Cholil berkata lagi "dan yang di gendong itu adalah Nabi Khidir AS".

Dari cerita di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa rasa ta’dzim/sendiko dawuh kepada kiyai dengan ikhlas, kelak akan membawa barokah tersendi pada santri. Sebagaimana Beliau K.H Hasyim yang menjadi Ulama kharismatik dan mendirikan sebuah organisasi besar di Indonesia, yaitu Nahdlatul ‘Ulama (NU). Suatu organisasi yang berasaskan Ahlussunah wal jama’ah dan menjadi rumah besar umat Islam Indonesia, termasuk bagi para santri NU.

Selain itu, di dunia pesantren juga banyak melahirkan tokoh nasional. Hal itu karena seorang santri dituntut bukan hanya menjadi seorang ulama atau kiyai. Melainkan juga mengemban amanah lain, seperti menjadi seorang pemimpin dalam masyarakat sebagaimana semboyan "Syubanul Naum Rijalul Ghod"  artinya yaitu pemuda di masa sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang.

Wallahu A'lam...


Gading Pamungkas, Alumni Pondok Pesantren Azziyadah Karangmalang - Ketanggungan, Kab. Brebes